Pelangi itu sangat indah. Dan keindahan itu telah sirna dalam kehidupan
Tia. Mata yang seperti sepasang bintang itu, telah hilang ditelan kabut gelapnya
malam. Kecerian sudah tidak tampak lagi, ketika kanker ganas itu menyerang tubuhnya.
Tidak ada satu kata penentangan yang keluar dari mulut Tia, namun ada seribu kesedihan
yang tersimpan dibalik diamnya. Tia tidak kuasa melihat air mata ibu dan ayah
nya terus saja mengalir. Hatinya bagai teriris sembilu. Entah sudah berapa banyak
air mata yang menetes karena dirinya. Ia tidak mau hal ini terjadi berlarut-larut.
Bertahun - tahun
Tia berteman dengan kanker dan bergulat dengan kematian, namun senyum kecilnya itu
tidak pernah pudar. Dia tampak begitu ikhlas dan kuat, meski sebenarnya hatinya
begitu rapuh. Ia selalu bilang pada ayah dan ibunya bahhwa ia adalah seorang putri
yang kuat dan berani, kanker ini tidak dapat mengalahkannya. Tapi sebenarnya
Tia begitu takut. Rasa takut ini ia tutup rapat – rapat sehingga sampai akhir hayatnya
pun tidak ada yang tau bahwa rasa takut itu pernah ada atau menyelinap dihatinya.
Hari demi hari kondisi
Tia kian memburuk. Rambutnya sedkit demi sedikit rontok hingga tidak ada satu
pun rambut yang tersisa di kepalanya. Darah terus saja mengalir dari hidungnya.
Rasa sakit itu sudah menguasai sebagian tubuh Tia. Dan
pada titik ini, Tia mengungkapkan kesedihannya. Ada satu pertanyaannya yang
tidak pernah bisa terjawab sampai saat ini “Kenapa
harus aku tuhan? Diantara banyak hamba mu.”
Sepertinya kematian
itu semakin dekat dengannya, sebab ia begitu lelah sehingga kaki nyalumpuh,
telinganya tidak dapat lagi berfungsi, pandangannya gelap, badan nya benar –benar
sudah tidak dapat di gerakkan, dan rasa sakit yang ia rasakan sepertinya sudah memuncak.
Ingin sekali rasa nya ia beristirahat untuk sejenak melepas lelah dari pengembaraan
yang tidak pernah usai. Tia selalu meminta satu hal yang begitu sederhana dari semua
orang yang mengenal dirinya “Tersenyumlah
untukku”.Namun hal itu adalah permintaan yang sangat berat bagi mereka.
Setelah begitu lama menggantung harapan,
akhirnya tia mendapatkan satukepastian akan kematian. Hari itu, suasana menjadi
hening ketika perlahan matanya tertutup, terpejam melepas harap bahagia akan kesembuhan.
Tampaknya Tia begitu bahagia, karena ia tidak lagi harus menahan rasa sakit itu
terlalu lama. 






numpang promo ya gan
BalasHapuskami dari agen judi terpercaya, 100% tanpa robot, dengan bonus rollingan 0.3% dan refferal 10% segera di coba keberuntungan agan bersama dengan kami
ditunggu ya di dewapk^^^ ;) ;) :*
numpang promo ya gan
BalasHapuskami dari agen judi terpercaya, 100% tanpa robot, dengan bonus rollingan 0.3% dan refferal 10% segera di coba keberuntungan agan bersama dengan kami
ditunggu ya di dewapk^^^ ;) ;) :*