Senin, 06 Juli 2015
Harimau Sumatera
Harimau Sumatera di Taman
Nasional Kerinci Seblat Semakin Langka
Populasi Harimau Sumatera di Taman Nasional Kerinci Seblat Tersisa 50-60
Ekor, Jumlah populasi harimau sumatera di kawasan TNKS
tersebut setiap tahun menyusut akibat maraknya perburuan liar serta perambahan
hutan.
Berdasarkan data yang ada di TNKS, jumlah
populasi harimau sumatera ini sampai dengan awal 2014 lalu tersisa 50-60 ekor. Jumlah harimau
sumatera yang masih tersisa ini di TNKS tersebar dalam empat
provinsi—meliputi Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat. Jumlah populasi harimau Sumatera di kawasan TNKS tersebut setiap tahun
terus menyusut akibat maraknya perburuan satwa liar, serta aksi perambahan
hutan untuk pembukaan lahan pertanian, pembalakan hutan, ataupun usaha tambang.
Ancaman terhadap kelestarian satwa di TNKS
belakangan ini bukan saja mengancam satwa khas Sumatera tersebut, tapi juga
terjadi pada jenis hewan lainnya yakni gajah dan badak sumatera. Selain itu, di
lokasi TNKS juga mulai terjadi kerusakan yang tergolong parah. Untuk wilayah
Provinsi Bengkulu yang meliputi Kabupaten Mukomuko, Lebong, Rejanglebong, dan
Bengkulu Utara dengan luas mencapai 340 ribu hektare, berdasarkan foto udara
Citra Satelit, 20.000 hektare sedangkan mengalami kerusakan.
Penyelamatan harimau menjadi penting,
karena populasi harimau sedunia saat ini hanya tersisa antara 3000 hingga 4000
ekor di alam liar. Jumlah ini menyusut drastis dari sekitar 100.000 di awal
abat ke-20. Penyebab utama adalah perburuan besar-besaran satwa karismatik ini.
Selain itu, spesies kucing terbesar di dunia ini telah kehilangan lebih dari 93
persen wilayah sebaran awalnya akibat pembukaan hutan untuk ekspansi pemukiman
serta industri pertanian dan kehutanan.
Kemajuan teknologi informasi ternyata
membawa dampak buruk bagi perlindungan subspesies harimau terakhir yang
dimiliki Indonesia ini. Mudahnya akses internet membuat jalur perdagangan
ilegal harimau dan bagian tubuhnya menjadi lebih mudah. Penjual dan pembeli
dapat melakukan transaksi secara langsung dan barang dikirimkan melalui jasa
pengiriman barang, tanpa harus bertatap muka. Ini mempersulit para penegak
hukum dalam memantau jalur perburuan dan perdagangan ilegal harimau.
Senada dengan
kondisi hewan endemik pada umumnya, populasi Harimau
Sumatera kian
menurun. Perburuan, pembebasan lahan hutan, dan aktivitas ekonomi lainnya
mengganggu keseimbangan habitat mereka. Penangkapan babi dan rusa yang kerap
dilakukan masyarakat juga merusak sistem rantai makanan para hewan di dalam hutan.
Apalagi, dalam
satu tahun setidaknya Harimau Sumatera membutuhkan 50 ekor babi sebagai
makanannya. Berkurangnya jumlah hewan yang menjadi target mangsanya, tentu
sangat mempengaruhi kelangsungan hidup mereka. Banyaknya peminat barang-barang
yang terbuat dari kulit Harimau asli pun menjadi salah satu ancaman yang sulit
dihindari sekalipun telah diatur dalam UU pasal 21 nomor 5 tahun 1990 poin (d)
yang berbunyi “setiap orang dilarang untuk memperniagakan, menyimpan atau
memiliki, kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau
barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau
mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di
luar Indonesia”.
Bagi yang
melanggar hukum ini dijatuhi sanksi pidana maksimal 5 tahun kurungan dan
maksimum denda sebesar Rp. 100 juta. Sayangnya, hingga kini ketegasan hukum
yang telah disahkan ini tetap tidak mampu menghentikan perburuan terhadap
Harimau Sumatera di Pulau Sumatera.
Berdasarkan tradisi yang masih diyakini masyarakat di Kerinci, Jambi,
hingga saat ini, Harimau Sumatera merupakan sahabat nenek moyang mereka.
Harimau Sumatera sendiri dianggap sebagai ‘Hewan yang dikeramatkan’ bagi
mereka. Hendaknya tradisi seperti ini mampu membantu agar mamalia langka ini
tetap lestari. Hampir semua desa dalam wilayah Kerinci, memiliki
cerita unik tentang hubungan manusia dengan si raja hutan. Harimau dianggap
memiliki kekuatan sakti, yang suatu saat bisa dimintai pertolongan.
Kepercayaan
yang dianut oleh masyarakat Kerinci tentang harimau merupakan warisan dari
nenek moyang mereka yang konon telah berperan serta dalam melestarikan hutan di
wilayah Kerinci yang merupakan habitat asli dari harimau Sumatra.
Ulah oknum yang tidak bertanggung jawab
melakukan perburuan dan pembunuhan satwa dikawasan TNKS yang dapat memyebabkan
terancam punahnya populasi harimau Sumatera secara tidak langsung dapat
mengancam kelestarian hutan. Sangat diperlukan kesadaran masyarakat untuk
menjaga kelestarian satwa dan hutan yang merupakan bagian unsur keseimbangan
alam, peran masyarakat yang juga harus terlibat langsung dalam upaya mencegah
dan memelihara lingkungan alam dimana mereka menjalani kehidupan bermasyarakat.
Minggu, 05 Juli 2015
PELANGI ITU INDAH
Pelangi itu sangat indah. Dan keindahan itu telah sirna dalam kehidupan
Tia. Mata yang seperti sepasang bintang itu, telah hilang ditelan kabut gelapnya
malam. Kecerian sudah tidak tampak lagi, ketika kanker ganas itu menyerang tubuhnya.
Tidak ada satu kata penentangan yang keluar dari mulut Tia, namun ada seribu kesedihan
yang tersimpan dibalik diamnya. Tia tidak kuasa melihat air mata ibu dan ayah
nya terus saja mengalir. Hatinya bagai teriris sembilu. Entah sudah berapa banyak
air mata yang menetes karena dirinya. Ia tidak mau hal ini terjadi berlarut-larut.
Bertahun - tahun
Tia berteman dengan kanker dan bergulat dengan kematian, namun senyum kecilnya itu
tidak pernah pudar. Dia tampak begitu ikhlas dan kuat, meski sebenarnya hatinya
begitu rapuh. Ia selalu bilang pada ayah dan ibunya bahhwa ia adalah seorang putri
yang kuat dan berani, kanker ini tidak dapat mengalahkannya. Tapi sebenarnya
Tia begitu takut. Rasa takut ini ia tutup rapat – rapat sehingga sampai akhir hayatnya
pun tidak ada yang tau bahwa rasa takut itu pernah ada atau menyelinap dihatinya.
Hari demi hari kondisi
Tia kian memburuk. Rambutnya sedkit demi sedikit rontok hingga tidak ada satu
pun rambut yang tersisa di kepalanya. Darah terus saja mengalir dari hidungnya.
Rasa sakit itu sudah menguasai sebagian tubuh Tia. Dan
pada titik ini, Tia mengungkapkan kesedihannya. Ada satu pertanyaannya yang
tidak pernah bisa terjawab sampai saat ini “Kenapa
harus aku tuhan? Diantara banyak hamba mu.”
Sepertinya kematian
itu semakin dekat dengannya, sebab ia begitu lelah sehingga kaki nyalumpuh,
telinganya tidak dapat lagi berfungsi, pandangannya gelap, badan nya benar –benar
sudah tidak dapat di gerakkan, dan rasa sakit yang ia rasakan sepertinya sudah memuncak.
Ingin sekali rasa nya ia beristirahat untuk sejenak melepas lelah dari pengembaraan
yang tidak pernah usai. Tia selalu meminta satu hal yang begitu sederhana dari semua
orang yang mengenal dirinya “Tersenyumlah
untukku”.Namun hal itu adalah permintaan yang sangat berat bagi mereka.
Setelah begitu lama menggantung harapan,
akhirnya tia mendapatkan satukepastian akan kematian. Hari itu, suasana menjadi
hening ketika perlahan matanya tertutup, terpejam melepas harap bahagia akan kesembuhan.
Tampaknya Tia begitu bahagia, karena ia tidak lagi harus menahan rasa sakit itu
terlalu lama. Rabu, 11 Maret 2015
SEJARAH NENEK DEPATI IV (EMPAT) KUMUN DEBAI
Semasa dahulu kala tersebut betung
beringin seorang perempuan bernama Puti Blae Kenantah Lidah, dan seorang
laki-laki Tuanku Malidimse, orang berdua ini berasal dari Kemuan Bajambo Dewea,
orang berdua ini slae bak sihaeh, satamaik bak pina, hidup berladang dan
mencari ikan, kemudian turun kerenah mencari tempat bersawah, yang laki-laki
turun kerenah laut nan badakei yaitu daerah inang Puro dan yang perempuan lari
kerenah betung beringin, yaitu yang kita kenal sekarang ini adalah Koto Beringin,
disinilah beliau membuat tempat tinggal seorang diri.
Kemudian datanglah dua orang laki-laki
dari Pagaruyung yaitu Sultan Marda Apai bersama Ketip Sandi Indah Batuah yang
kita kenal sekarang dengan Nenek Mesjid Intan di Kumun, orang berdua ini
sementara menumpang tinggal dirumah Puti Blae Kenantan Lidah. Setelah Itu
beberapa lama Ketip Indah Sandi Batuah merasa tercela tinggal bersama perempuan
seorang diri, maka oleh sebab itu dirundinglah Puti Blae Kenantan Lidah kawin
dengan Sultan Mardo Apai, dengan perudingan tersebut kiranya orang berdua ini
suka sama suka, maka oleh Ketip Indah Sandi Batuah langsung dinikahkan, karena
bliau seorang ulama yang membawa Khotbah setinggi tegak dan beliau serahkan
kepada Puti Blae Kenantan Lidah dua laki isteri ini dijadikan pusaka, lama –
kelamaan dua laki isteri ini dikaruniai empat orang anak, yaitu :
1.
THUK (Nenek
Dulaman Payang) yang menunggu Koto Beringin turun temurun.
2.
Nenek Dewa Saleh
dewa yang menunggu koto Pinang (Koto Lebu).
3.
Nenek Pengenang
Bumi yang menunggu Koto Tuo.
4.
Nenek Jatui yang
menunggu Koto Pandok.
Dengan berkembang biak peduduk yang
empat koto ini maka berdirilah mesjid Intan beratap Ijuk dan agama islam mulai
berkembang yang dipelopori oleh Nenek Ketip Indah Sandi Batuah, sementara pada
itu Asaek juga bertambah menjadi dipeka. Kemudian datang lagi Nenek Nyampai
Siau dengan Saeh Bajanguk Ira dari Pagaruyung mencari mamaknyo Sultan Mardo
Apai, maka bertemu di Koto Beringin, sedangkan Nyampai Siao orang yang arif
bijaksanao pandae basiao same ngangao, oleh Puti Blae Kenantan Lidah didukung
oleh anaknya yang menungu empat koto tadi maka Nenek Nyampai Siao diangkat
menjadi Mahkota Kumun.
Pada waktu itu Kumun dimasukkan dalam
Permantai nan sepuluh, jadi oleh Nenek Nyampai Siao menentang bahwa Kumun tidak mau
memngikuti permantai nan sepuluh karena Kumun mau berdiri sendiri dengan adanya
pertentangan tersebut terjadilah kebakaran diKoto Tuo Kumun dan sampai tabiu
taha, oleh Nenek Nyampai Siao dan Puti Blae Kenantan Lidah mengutuskan empat
orang yaitu satu orang tiap-tiap Koto untuk mengadukan hal ini ke Jambi, untuk
mintak perlindungan kepada Raja Jambi yang diutus :
1.
Dari Koto
Beringin adalah Thuk
2.
Dari Koto Tuo
......................
3.
Dari Koto Pinang
.................
4.
Dari Koto Pandok
adalah Jatui.
Syarat yang dibawa ke Jambi untuk
menemui Raja :
1.
Abu dan arang
kebakaran Dusun.
2.
Sirih saranao
lengkap dengan kemenyan putih.
Setelah Raja Jambi Pangeran Tumenggung
Kebal di Bukit mendengar pengaduan tersebut dengan bukti-buktinya, maka raja
memanggil Depati Atur Bumi di Hiang Tinggi untuk didenggar keterangannya, oleh
Depati Atur Bumi ternyata hal tersebut benar, maka Raja mengambil keputusan
Kumun tidak dimasukkan kedalam permantai nan sepuluhdan tidak ikut sidang di
Hiang Tinggi, jadi mulailah pada waktu itu Tegak sama tinggi, duduk sama rendah
dengan Depati Atur Bumi.
Kemudian Raja memberi pusaka kepada
utusan yang berempat :
1.
Depati Galang
Negeri
2.
Depati Nyato
Negoro
3.
Depati Puro
Negoro
4.
Depati Sempurno
Bumi Putih
Pusaka yang diberikan adalah :
Ø Satu helai kain tunggal
Ø Satu buah keris
Ø Satu buah pedang
Ø Satu buah slak dan piagam
Ø Satu buah Kranta
Pusaka
yang diberikan ini tertulis dalam slak tahun 1106, kemudian utusan yang
berempat ini pulang, ditengah perjalanan yaitu disuatu tempat yang namanya Sandaran
Agung, utusan tersebut beristirahat selama tiga hari, maka dari sini Depati
Puro Negoro berpesan dalam angin kepada Nyampe Siao dan Puti Blae Kenantan
Lidah untuk dapat mengirim dua penjemput mereka dipondok Sandaran Agung,
menjemput rombongan dari Jambi dipondok sandaran Agung oleh Nyampai Siao dengan
Putri Blae Kenantan Lidah diutuslah dua orang utusan dari Koto Tuo dan Koto
Pandok.
Setelah
utusan yang berdua itu sampai, maka diserahkanlah pusaka kepada utusan dari
Koto Tuo, membawanya. Cara membawanya hendak
didukung bukannya berat, hendak dijinjing bukannya ringan, oleh utusan
nenek dari koto beringin memututuskan cara membawanya didukung dipangkukan yang mendukung atau membawa pusaka adalah
utusan dari Koto Tuo diiringi oleh Depati Puro Negoro dan Utusan dari Koto
Pandok serta Depati Galang Negeri dahulu dan dibelakang adalah Depati Sempurno
Bumi Putih bersama Depati Nyato Negoro, sesampai sesampai diKoto Tuo disambut
oleh Pati Balang Kenantan Lidah dengan Nyampai Siao dengan breh saratauh, kbea
sikao, utusan dari Koto Tuo yang membawa pusaka dilantik menjadi nenek mamal
dalam Luhah Puro Negoro dengan gelar Mangkau Bangun Negorodan utusan dari Koto
Pandak dilantik menjadi nenek mamak dalam luhah Nyato Negarodengan gelar
Mangkau Cayo Depati, dengan adanya Slak dengan piagam Raja memerintahkan
membangun dusun maka oleh Pati Balang Kenantah Lidah bersama Nenek Nyampai Siao
mengajun mengarah untuk menjadi dusun atas tanah wilayah Depati Empat, maka
lahirlah undang-undang negeri :
Undang-undang
Negeri :
1.
Berdusun
berlaman
2.
Berumah
bertangga
3.
Berhulau
berkampao
4.
Bersurau
bermesjid
5.
Berparit
bersudut empat
Undang-undang
Isi Negeri :
1.
Salah takaok,
lukao dipampaeh
2.
Salah bunuh,
mati dibangun
3.
Harta sarang
dibagi
4.
Sekutu dibelah
5.
Berutang dibayar
6.
Piutang diterima
7.
Salah dihukum
8.
Bersalahan
dipatut
9.
Berebut
diganggangkan
10. Gaib kalam Alloh SWT.
Untuk
pelaksanaannya terbitlah kato Sko bergilir, sandang berganti, maksudnya adalah
siapa yang menyimpan pusaka itulah yang menjadi Kepala Dusun disebut rumah
gedang, disini tempat menghukum, mendendo bededik betampi lumaek banyeak,
bakase sudeah, makan habis, memengal putus, api padea, puntuk ideak berasap
lagui, yang menghuni rumah gedang rumah pusako selaku mendapo hutan mendapo
tanah.
------------------------------------------------------------TRANSLATION IN ENGLISH :
HISTORY OF GRANDMA DEPATI IV (FOUR) KUMUN DEBAI
GONG STONE LAND KURNIA
During the
ancient banyan betung a woman named Puti Blae Kenantan tongue, and a man lord
Malidimse, both those derived from Kemuan Bajambo Dewea, both man is like a
piece of betel leaves, like a sprig of nut, living farming and fishing, then
down the valley looking for a place to grow rice, the men climb down the valley
of the sea that is the area of the host Puro and that women run a banyan
betung valley, which we now know this is the Banyan Koto, this is where he made
a living by himself.
Then came two
men from Pagaruyung Sultan Marda Apai along dime Password Beautiful Batuah we
know it today with Grandma Mosque in Kumun diamonds, both those living at home
while riding Puti Blae Kenantan tongue. Afterwards some of the old dime
Beautiful Password Batuah feel despicable living with women alone, so therefore
Agree Puti Blae Kenantan tongue mating with Sultan Mardo Apai, with the
negotiated transfers both people would have consensual, then by direct Batuah
dime Beautiful Password married , because bliau a scholar who brings his sermon
tall upright and leave to Puti Blae Kenantan Tongue two men's wives made
heritage, long - eventually the two men's wives had four children, namely:
1.
THUK (Grandma Dulaman Payang) waiting Koto Banyan hereditary.
2.
Grandma god god Saleh waiting koto Pinang (Koto Lebu).
3.
Grandma reminder of the Earth are waiting Koto Tuo.
4.
Grandma Jatui waiting Koto Pandok.
With four
breeding population of this koto then stand Diamond roofed mosque Ijuk and the
religion of Islam began to grow, led by Grandma dime Beautiful Password Batuah,
while at the Asaek also increased to the village. Then come again Grandma
nyampai Siau with Ira Bajanguk Saeh of Pagaruyung seek his uncle Sultan Mardo
Apai, then met in Koto Banyan, while nyampai Siao wise people who are good at
whistling while gaping, by Puti Blae Kenantan Tongue supported by his son who
waited four koto was then Grandma nyampai Siao appointed Crown Kumun.
At that time the
Government Kumun included in the top ten, so by Grandma nyampai Siao against
that Kumun not want to follow the rule of ten because Kumun want to stand alone
with the opposition to pass fire diKoto Tuo Kumun and until tabiu taha, by
Grandma nyampai Siao and Puti Blae Kenantan tongue shall designate four
members, namely one person each Koto to denounce it to Edinburgh, to ask for
the protection of the King of Jambi that was sent:
1.
From the Koto Banyan is Thuk
2.
From Koto Tuo ......................
3.
From Koto Pinang .................
4.
From Koto Pandok is Jatui.
Terms
were taken to Edinburgh to see the King:
1.
The ash and charcoal fires Hamlet.
2.
Betel saranao complete with white incense.
After King
Edinburgh Princes Hill Hero Member Immune hear the complaint with the evidence,
the king summoned Depati Set Earth in High Hiang to be heard, by Depati Set
Earth turns out it is true, then he would take a decision Kumun not included in
the ten governments and did not participate in the trial High Hiang, so start
at the same time high Upright, sat together with Depati Set Earth.
Then
the king gave inheritance to messenger foursome:
1.
Assemble Depati State
2.
Depati Nyato Negoro
3.
Depati Puro Negoro
4.
Depati Sempurno White Earth
Heirloom
given is:
1.
One
single piece of cloth
2.
One
fruit kris
3.
One
swords
4.
One
slak fruit and charter
5.
One
fruit Kranta
This heirloom
given slak written in 1106, then ambassador in this foursome home, amid the
trip is one place whose name backrest Court, the messenger of rest for three
days, then from here Depati Puro Negoro told the wind to nyampe Siao and Puti
Blae Kenantan tongue to be able to send two of their pickup in the Great
backrest cottage, picked group of Jambi on the back of the Great cottage by
nyampai Siao with Princess Blae Kenantan tongue diutuslah two delegates from
Koto Koto Tuo and Pandok
After the
messenger that both the up, then diserahkanlah inheritance among the delegates
of Koto Tuo, bring it. How to bring it about to be supported instead of weight,
about to carry instead of light, by the grandmother of the koto banyan
delegates decide how to bring it supported the knees, which hold or carry
heirloom is the messenger of Koto Tuo accompanied by Depati Puro Negoro and
Envoy of Koto Pandok and Depati State Galang first and behind is Depati
Sempurno White Earth along Depati Nyato Negoro, upon arriving at Koto Tuo
greeted by Pati Balang Kenantan Tongue with nyampai Siao with rice hundred, a
buffalo, a messenger of Koto Tuo that bring heirloom inducted into grandmother
mammal in Puro Luhah Negoro with Mangkau title Build Negorodan messenger of
Koto Pandak inducted into elders in luhah Nyato Negaro with Mangkau title Cayo
Depati, with slak by charter of King ordered to build it by Pati Balang village
Kenantan tongue with my grandmother prepare nyampai Siao leads to be hamlets
Depati Four land area, then born domestic legislation:
Act
of State:
1.
Hamlet leafs
2.
The house with stairs
3.
Disgorge encamped
4.
mosque mosque
5.
Gated angled four
State
Law Contents:
1.
One jab, injury compensation
2.
One killed, dead built
3.
Treasure nest divided
4.
Allies split
5.
Owe paid
6.
Receivables accepted
7.
One convicted
8.
awry dipatut
9.
scramble separated
10.
Occult secrets of Allah SWT.
For the implementation
issue was said rotating heritage , Clothing Changes , that is who save heirloom
that The Hamlet Head Being called home swept away here place punish , penalize
bededik betampi lumaek much , sudeah bakase , Eating Out , breaking memengal ,
fire padea , not butts smoky again , which occupy a large house as a heritage
home Mendapo ( leader ) Mendapo forest land .
Kamis, 22 Mei 2014
ASAL MULA AKSARA INCUNG KERINCI KUNO
Untuk
mendapat gambaran mengenai historis aksara Incung, kita menyimak hasil
penelitian para pakar asing, yaitu Dr. P. Voorhoeve tahun 1941 yang mendapat
bantuan isterinya dan nona N. Coster, yang keduanya menguasai aksara Kerinci
dan mereka dibantu oleh Abdul Hamid seorang guru Sekolah Dasar Koto Payang I.
Sebagaimana dikutip dari “Kerintji Documents, 1970: 369-370”, Voorhoeve
menerangkan sebagai berikut :
Kerinci,
dalam perjalanan sejarahnya, telah mempunyai hubungan politik dan kebudayaan
dengan Minangkabau di sebelah Utara dan Jambi di sebelah Timur. Daerah ini
sekarang kembali menjadi bahagian dari Jambi. Karena hubungan dekatnya dengan
Sumatera Selatan ia dimasukkan ke dalam kepustakaan Sumatera Selatan yang
disusun oleh Helfrich dan Wellan dan diterbitkan oleh Zuid- Sumatra Instituut
(Institut Sumatera Selatan).
Dalam
lapangan kesusastraan tertulis, perbedaan yang sangat menyolok antara
Minangkabau dan Kerinci adalah bahwa di Kerinci terdapat banyak dokumen-dokumen
atau naskah-naskah yang ditulis dalam tulisan Rencong (Ker. Incung), tulisan
yang telah dipergunakan oleh rakyat Kerinci sebelum datangnya tulisan
Arab-Melayu bersamaan dengan masuknya agama Islam ke Kerinci, dan disimpan
sebagai pusaka turun temurun, sedangkan di Minangkabau hal yang demikian tidak
ada sama sekali. Tulisan Kerinci mempunyai ciri-ciri yang khas dan berbeda
dengan tulisan Rencong Rejang dan tulisan-tulisan Melayu Tengah.
Ini
menunjukkan hasil karya nenek moyang orang Kerinci yang telah berumur ratusan
tahun, sebagai sesuatu yang bernilai tinggi dan amat berharga dalam konteks
peradaban manusia. Untuk mengenal kembali karya peradaban suku Kerinci masa
silam, harus dimulai dari mana asal mulanya aksara Incung itu. Karena tanpa
mengetahui historis aksara yang dipergunakan masyarakat Kerinci zaman dahulu.
Kita tidak akan dapat mempelajarinya dengan benar dan tepat penggambaran simbol
aksara.
Salah
satu peninggalan peradaban masa silam yang terdapat di Sumatera adalah aksara
Incung daerah Kerinci. Di Sumatera ada 4 wilayah induk penyebaran aksara daerah
yaitu Batak, Kerinci, Rejang dan Lampung. Aksara Incung terdapat di Kabupaten
Kerinci Propinsi Jambi, satu-satunya daerah yang memiliki aksara sendiri di
Sumatera bahagian tengah. Ini dibuktikan dengan adanya naskah-naskah kuno berumur
ratusan tahun lebih yang mempergunakan aksara Incung, sampai saat ini masih
disimpan oleh orang Kerinci. Bahasa yang dipakai dalam penulisan naskah-naskah
tersebut adalah bahasa Kerinci Kuno yaitu bahasa lingua franca suku Kerinci
zaman dahulu.
Kalau
kita simak fonetis yang terdapat dalam naskah Incung umumnya memakai bahasa
Melayu. Sebab bagaimanapun juga bahasa Kerinci Kuno tersebut merupakan bahagian
dari bahasa Melayu zaman lampau yang penyebaran meluas dari Madagaskar sampai
ke lautan Fasifik. Sekalipun ada juga kata-kata Kerinci yang tidak ditemui di
daerah penyebaran bahasa Melayu lainnya, tentu hal tersebut merupakan ‘local
geneus’ yang berkembang sesuai dengan lingkungan alam dan budaya lokal. Dengan
kondisi tersebut aksara Incung pada hakekatnya adalah bahagian dari sastra
Indonesia Lama, karena apa yang ditulis dalam naskah-naskah Incung Kerinci
berbahasa Melayu. Dalam naskah itu, diantaranya banyak terdapat kata-kata dan
ungkapan yang sulit untuk dimengerti bila dihubungkan dengan bahasa Kerinci
yang digunakan oleh masyarakat sekarang, karena bahasa tersebut tidak menurut
dialek desa tempatan yang ada di Kabupaten Kerinci. Namun
walaupun demikian, jika disimak secara seksama isi naskah pada tulisan Incung,
orang masih dapat menangkap maksud dan makna yang terkandung didalamnya.
Adapun sejarah tulisan berbahasa Melayu telah mulai dipergunakan sekitar tahun 680. Dari masa itu ada prasasti berbahasa Melayu yang sampai kepada kita, yakni prasasti Karang Berahi (Bangko), Kedukan Bukit (Palembang), Kota Kapur (Bangka), Talang Tuo (Palembang), dan beberapa prasasti lainnya. Prasasti itu ditulis dengan huruf Pallawa (India Kuno) dalam bahasa Melayu Kuno, oleh sebab itulah bahasa resmi dalam prasasti tadi kita namakan bahasa Melayu Kuno.
Berkaitan
dengan bahasa dan aksara Kerinci, termasuk bahagian yang mempergunakan bahasa
Melayu, sebagaimana yang ditulis dalam naskah-naskah Incung. Dalam naskah
tersebut kita temui kata-kata yang tidak lazim pada dialek penyebaran
orang-orang Melayu yang bermukim di Sumatera dan Semenanjung Malaka.
Perbedaannya berakar dari latar belakang bahwa induk suku Kerinci berasal dari
Proto Melayu, dan dari sisi lain proses perjalanan sejarah orang Kerinci tentu
berbeda dengan daerah Melayu lainnya, karena pemakaian aksara maupun fonetis
bahasanya mendapat pengaruh lingkungan alam dan budaya lokal Kerinci.
Satu
pertanyaan, kapan aksara Incung mulai dipergunakan orang Kerinci?. Untuk
mengungkapnya tentu membutuhkan penelitian yang kongrit. Namun demikian, diduga
orang Kerinci telah menggunakan tulisan Incung sejak zaman sesudah adanya
prasasti Sriwijaya abad ke 7 di Karang Berahi (Kabupaten Merangin) bertulisan
Pallawa. Cukup beralasan karena sebelumnya tidak ditemukan benda bertulisan di
daerah Kerinci umumnya di Sumatera kecuali aksara Pallawa tersebut.
Walaupun
demikian belum tentu orang Kerinci pada zamannya meniru tulisan Pallawa, baik
cara penulisan maupun cara bacaannya. Aksara Incung pada awalnya ditulis dengan
memakai sejenis benda runcing dan guratannya mirip dengan tulisan paku aksara
Babilonia Kuno. Yang jelas aksara Incung sudah dipergunakan oleh orang Kerinci
selama berabad-abad sesudah aksara Pallawa dikenal oleh bangsa Melayu Sumatera.
Inspirasi lahirnya aksara Incung pada orang Kerinci Kuno, didasari atas
pemikiran pentingnya untuk pendokumentasian berbagai peristiwa kehidupan,
kemasyarakatan, sejarah, tulis-menulis dan lain-lain.
Daerah
yang terkait dengan hubungan aksara Incung Kerinci adalah Lampung dan Rejang.
Seperti di Lampung, masyarakat di sana menyebut aksara daerahnya sebagai “Surat
Ulu” atau sebutan lainnya “Palembang Ulu”. Di daerah Sumatera Selatan yang
memakai bahasa Melayu, mengatakan bahasa yang terpakai pada ‘Surat Ulu’ tadi
bukanlah bahasa Melayu, tetapi mereka mengatakan bahasa orang dahulu, bahasa
kuno.
Kata
Surat Ulu, yaitu surat orang zaman dahulu, banyak dibantah oleh pakar filologi.
Menurut mereka yang benar ‘Surat Ulu’, yaitu surat ‘Hulu’ atau surat orang
‘pedalaman’. Karena surat-surat dengan aksara itu hanya terpakai di pedalaman
saja, sedangkan pedalaman yang memiliki peradaban tulis baca pada zamannya
adalah daerah Kerinci. Daerah Kerinci berdasarkan bukti-bukti temuan arkeologi,
dalam sejarah kebudayaan Nusantara merupakan daerah yang sangat tua (di Kerinci
ditemui keramik dari Dinasti Han 300 SM).
Untuk
mengungkap historis pemakaian aksara Incung yang terdapat pada naskah-naskah
kuno Kerinci. Ada petunjuk dari beberapa naskah dengan pendahuluan kata-kata
berbunyi :
Ø Basamilah mujur batuwah jari tangan aku mangarang
surat incung jawa palimbang ... (Bambu dua ruas tulisan Incung pusaka Depati
Satio Mandaro di Desa Dusun Dilir Rawang)
Ø Ah basamilah akung mangarang parapatah surat incung
jawa palimbang ... (Bambu dua ruas tulisan Incung pusaka Rajo Sulah Desa Siulak
Mukai).
Apa
yang ditulis dalam naskah kuno Kerinci dengan sebutan ‘surat incung jawa
palimbang’ maksudnya adalah, penyebaran aksara Incung sebagai tulisan lingua
franca sampai ke daerah Sumatera bahagian Selatan pada zaman tersebut. Daerah
Selatan itu yaitu daerah Lampung dan Rejang, yang mana oleh orang Kerinci zaman
dahulu disebut sebagai ‘jawa palimbang’.
Dimaksud
dengan Jawa bukan Pulau Jawa tetapi daerah Lampung, sesuai dengan keadaan
munculnya kerajaan Sriwijaya. Hal ini dijelaskan oleh prasasti Kota Kapur Bangka
(686 M) yang menyebutkan penghancuran bhumi jawa yang tidak bakti (tunduk)
kepada Sriwijaya, antara lain bunyinya “..ni pahat di welanya yang wala
srivijaya kaliwat manapik yang bhumi jawa tida bhakti ke srivijaya”.
Bhumi
Jawa tersebut adalah sebuah kerajaan di Lampung, yaitu Tulang Bawang yang
memiliki kekuatan menyaingi Sriwijaya. Sedangkan ‘palimbang’ yang dimaksud
dalam tulisan Incung Kerinci, juga bukan berarti kota Palembang, tetapi adalah
komunitas orang dengan kebudayaannya di Sumatera Selatan, karena aksara Incung
tidak terdapat di Palembang.
Jadi
aksara yang terdapat dalam naskah kuno Kerinci, zaman dahulunya pemakaiannya
sampai ke Rejang dan Lampung. Dalam naskah kuno Incung juga disebut nama
kota-kota tua yang ada di daerah Selatan, sekalipun saat sekarang kota atau
tempat tersebut tidak lagi memakai nama seperti dalam naskah Incung.
Kerinci
sebagai daerah hulu yang terletak di dataran tinggi Bukit Barisan, dan orang
Kerinci menyebut Jambi dan Palembang sebagai daerah rantau transit perdagangan
ke selat Malaka. Selama ratusan tahun hubungan orang Kerinci ke Selatan dengan
melewati jalur tradisional Merangin dan Gunung Sumbing, untuk perdagangan
sekaligus kontak budaya dengan masyakarat bahagian Selatan. Dari hubungan
antara segala macam fenomena simbolik dengan realitas kehidupan masyarakat
Kerinci dahulunya dengan orang-orang Melayu Sumatera, dapat diproyeksikan
keberadaan aksara Incung sudah dipergunakan secara luas pada abad ke 14 M.
B.
Perkembangan Aksara Incung
Dalam
perkembangannya, kita akan menemukan karya aksara Incung pengaruh Hindu.
Pengaruh Hindu merupakan pengaruh asing pertama dan lama di Nusantara ini.
Kenyataan terdapatnya kata-kata Hindu dalam naskah kuno Kerinci aksara Incung
seperti kata Batara, Dewa, dan sebagainya.
Dalam
pada itu, setelah agama Islam sampai ke Nusantara ini, beberapa suku bangsa
yang disebut sebagai rumpun Melayu itu kemudian berkembang dengan ciri-ciri
agama, bahasa, dan budayanya masing-masing. Dalam perkembangan yang terjadi
melalui jalan sejarah yang panjang itu kita akhirnya dapat melihat bahwa
orang-orang atau penduduk yang mendiami Sumatera, khususnya wilayah Kerinci
memperlihatkan ciri dengan suatu warna budaya yang amat banyak diwarnai oleh
agama mereka, yaitu Islam. Penduduk daerah ini beragama Islam, berbahasa Melayu
Kerinci, serta mempunyai berbagai kesamaan pula dalam adat dan tradisi dengan
daerah sekitar Kerinci seperti Minangkabau dan Jambi.
Begitupun
dengan aksara daerah yang dimiliki orang Kerinci disebut ‘aksara Incung’,
menghasil karya-karya tulis bermutu tinggi sekalipun mereka telah melupakannya.
Sejak abad ke-19 naskah-naskah aksara Incung telah dijadikan benda keramat oleh
rakyat Kerinci, sedangkan orang-orang yang ahli dan dapat menulis dan membaca
tulisan ini sudah tiada lagi.
C.
Media Penulisan Aksara Incung
Penulisan
aksara Incung oleh orang Kerinci dimuat dalam karya sastra klasik. Pengertian
sastra klasik ialah segala sesuatu yang tertulis, segala rupa tulisan dapat
dipandang sebagai produk sastra, bermacam tulisan dalam berbagai bidang ilmu
dan warna kehidupan dapat menjadi sasaran studi sastra.
Kajian
ini merupakan suatu studi yang memanfaatkan segala dokumen tertulis bagi suatu
pembahasan berbagai cabang ilmu, kebudayaan, dan agama. Pengertian sastra yang
dipasang dalam cabang ini memberi peluang kepada siapapun untuk memakai segala
teks tertulis untuk kepentingan bahan kajian dalam suatu kegiatan ilmu
tertentu.
Hasil
sastra klasik Kerinci secara tertulis mulai pada zaman Islam awal memakai
aksara Incung, dapat kita temukan pada naskah-naskah kuno Kerinci. Naskah kuno
Kerinci yang sampai kepada kita berasal dari abad ke 13 – 19 M berupa benda-benda
pusaka atau ‘pedandan’. Ada semacam kepercayaan dikalangan orang Kerinci, bahwa
penciptaan aksara dan pelahiran kesusastraan bersumber dari suatu latar
belakang perwujudan budaya alam, manusia, dan Ketuhanan sebagai suatu
keseluruhan.
Sehingga
kesusastraan orang Kerinci yang ditulis pada media tanduk kerbau, bambu,
kulit kayu, daun lontar, kain dan kertas merupakan kesusastraan suci
yang dianggap keramat dan sakti. Sampai saat sekarangpun kepercayaan tersebut
sulit hilang dalam kehidupan budaya masyarakat Kerinci


Tanduk Bambu
Kalau
kebudayaan diartikan sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa manusia dalam upaya
memenuhi kebutuhan hidupnya, banyaklah hal yang dapat dibicarakan dalam konteks
tersebut. Bahasa, adat-istiadat, kesenian, dan ilmu pengetahuan adalah
hasil-hasil budaya manusia yang harus dipertahankan hidupnya dan diusahakan
pengembangannya. Salah satu aset kebudayaan Kerinci adalah bahasa Kerinci,
bahasa ini memiliki perbedaan dengan dialek yang diucapkan oleh daerah sekitar
Kerinci seperti Jambi dan Minangkabau.
Kebanyakan
bahasa daerah yang dipakai penduduk Sumatera umumnya adalah bahasa Melayu,
kedalamnya termasuk juga bahasa Kerinci. Bahasa Kerinci dipergunakan khusus
penutur yang ada di kabupaten Kerinci. Sekalipun bahasa Kerinci berbeda dengan
daerah lainnya di Sumatera, namun bahasa daerah ini berpokok kepada bahasa
Melayu. Sejak zaman dahulu menjadi bahasa untuk semua kegiatan bagi orang
Kerinci. Bahasa ini dipergunakan juga oleh orang Kerinci dalam penyebaran
agama, perdagangan, pertanian dan sastra.
Naskah-naskah
kuno Kerinci yang kita sebutkan itu merupakan satu perigi dari perigi khasanah
sastra Melayu Klasik di Indonesia. Masih terbuka lagi kemungkinan menemukan
perigi lain dari peninggalan peradaban Kerinci masa silam. Juga akan menjadi
bahan studi menarik, baik dari segi mutu maupun ketinggian nilai sastranya.
Kita melihat beberapa aspek naskah kuno daerah Kerinci, yang kita pandang
sebagai dokumen tertulis sastra klasik. Hasil sastra klasik itu tidak lain
berupa naskah-naskah, merupakan peninggalan dan hasil karya nenek moyang orang
Kerinci masa silam.
Bahasa
Kerinci adalah bahagian dari bahasa Melayu, sebagai daerah terpencil mempunyai
dialek tersendiri Dialeknya berbeda sekali dengan suku-suku Sumatera lainnya.
Namun orang Kerinci mengerti apabila orang bercakap-cakap dalam bahasa Melayu
atau Indonesia umumnya mereka langsung mengerti pembicaraan tersebut.
Karakteristik bahasa Kerinci terletak pada dialeknya yang banyak, hal seperti
ini tidak ditemui di daerah lainnya Indonesia.
Sehingga
terdapat dialek yang berbeda sebanyak jumlah desa (dusun asli, masyarakat
persekutuan adat) yang ada dalam Kabupaten Kerinci semuanya berjumlah + 177
dialek. Diantara Faktor lain yang sangat mempengaruhi majemuknya dialek
tersebut, dikarenakan kelompok–kelompok yang membentuk dusun (Kerinci: luhah,
nagehi) lebih dominan hubungan genealogis teritorialnya.
Sekalipun
dusun itu bertetangga hanya dibatasi oleh jalan atau seberang sungai saja,
tetapi ketika saling berkomunikasi mereka sama–sama mengerti maksud dari
pembicaraan lawannya. Juga tidak menghambat hubungan silaturahmi diantara
mereka dalam dialek yang berbeda tersebut. Mereka merupakan kesatuan dalam
sebuah lingkungan budaya Alam Kerinci. Jadi bahasa Kerinci ialah bahasa yang
saling dimengerti oleh masyarakat yang menghuni lingkungan Alam Kerinci atau
Kabupaten Kerinci.
Melihat
bentuk grafis aksara Incung Kerinci hampir mirip dengan aksara daerah Sumatera
lainnya seperti Batak, Rejang, dan Lampung. Sekalipun pada bacaan dan
penulisannya banyak juga perbedaan yang mendasar. Kemiripan aksara-aksara
daerah itu disebabkan, mereka berasal dari satu lingkungan budaya Sumatera yang
sama pada masa dahulunya. Kemudian proses tumbuh dan berkembang, aksara
tersebut mengalami corak yang membedakan satu sama lainnya sesuai dengan kondisi
dan letak pusat induk kultur masing-masing etnis Sumatera itu.
Satu
hal, pada naskah-naskah tulisan Incung itu tidak ditemukan penunjuk angka untuk
bilangan. Jadi tulisan Incung hanya mengenal huruf saja dan tidak mempunyai
angka bilangan. Mungkin inilah yang menyebabkan pada setiap naskah tidak
didapati penanggalan maupun tanggal penulisannya.
Agama
Islam berkembang dengan pesat di Nusantara pada puncaknya abad ke – 16, dengan
masuknya pengaruh Islam ke Kerinci penulisan naskah-naskah beralih ke aksara
Arab dengan bahasa Melayu. Hasil-hasil sastra Kerinci pengaruh Islam cukup
banyak, antara lain cerita tentang Nabi Adam, Nabi Muhammad SAW, cerita tentang
ajaran dan kepercayaan Islam, dan cerita mistik dan tasauf.
Penulisan
sastra Incung juga dipengaruhi oleh Islam seperti adanya dalam naskah-naskah
kuno Kerinci aksara Incung, seperti pada kata pengantar : basamilah mujur dan
assalamualikun. Ini menunjuk bahwa orang Kerinci saat peralihan masuknya aksara
Arab atau Islam, tidak menjadikan hilangnya aksara Incung dari kehidupan
mayarakat Kerinci. Tetapi memperkaya karya sastra Incung dengan nuansa Islam,
yang mana mereka menulis naskah-naskah Incung dengan memasukkan unsur-unsur
ajaran Islam.
D.
Contoh Aksara Incung Kerinci














