Untuk
mendapat gambaran mengenai historis aksara Incung, kita menyimak hasil
penelitian para pakar asing, yaitu Dr. P. Voorhoeve tahun 1941 yang mendapat
bantuan isterinya dan nona N. Coster, yang keduanya menguasai aksara Kerinci
dan mereka dibantu oleh Abdul Hamid seorang guru Sekolah Dasar Koto Payang I.
Sebagaimana dikutip dari “Kerintji Documents, 1970: 369-370”, Voorhoeve
menerangkan sebagai berikut :
Kerinci,
dalam perjalanan sejarahnya, telah mempunyai hubungan politik dan kebudayaan
dengan Minangkabau di sebelah Utara dan Jambi di sebelah Timur. Daerah ini
sekarang kembali menjadi bahagian dari Jambi. Karena hubungan dekatnya dengan
Sumatera Selatan ia dimasukkan ke dalam kepustakaan Sumatera Selatan yang
disusun oleh Helfrich dan Wellan dan diterbitkan oleh Zuid- Sumatra Instituut
(Institut Sumatera Selatan).
Dalam
lapangan kesusastraan tertulis, perbedaan yang sangat menyolok antara
Minangkabau dan Kerinci adalah bahwa di Kerinci terdapat banyak dokumen-dokumen
atau naskah-naskah yang ditulis dalam tulisan Rencong (Ker. Incung), tulisan
yang telah dipergunakan oleh rakyat Kerinci sebelum datangnya tulisan
Arab-Melayu bersamaan dengan masuknya agama Islam ke Kerinci, dan disimpan
sebagai pusaka turun temurun, sedangkan di Minangkabau hal yang demikian tidak
ada sama sekali. Tulisan Kerinci mempunyai ciri-ciri yang khas dan berbeda
dengan tulisan Rencong Rejang dan tulisan-tulisan Melayu Tengah.
Ini
menunjukkan hasil karya nenek moyang orang Kerinci yang telah berumur ratusan
tahun, sebagai sesuatu yang bernilai tinggi dan amat berharga dalam konteks
peradaban manusia. Untuk mengenal kembali karya peradaban suku Kerinci masa
silam, harus dimulai dari mana asal mulanya aksara Incung itu. Karena tanpa
mengetahui historis aksara yang dipergunakan masyarakat Kerinci zaman dahulu.
Kita tidak akan dapat mempelajarinya dengan benar dan tepat penggambaran simbol
aksara.
Salah
satu peninggalan peradaban masa silam yang terdapat di Sumatera adalah aksara
Incung daerah Kerinci. Di Sumatera ada 4 wilayah induk penyebaran aksara daerah
yaitu Batak, Kerinci, Rejang dan Lampung. Aksara Incung terdapat di Kabupaten
Kerinci Propinsi Jambi, satu-satunya daerah yang memiliki aksara sendiri di
Sumatera bahagian tengah. Ini dibuktikan dengan adanya naskah-naskah kuno berumur
ratusan tahun lebih yang mempergunakan aksara Incung, sampai saat ini masih
disimpan oleh orang Kerinci. Bahasa yang dipakai dalam penulisan naskah-naskah
tersebut adalah bahasa Kerinci Kuno yaitu bahasa lingua franca suku Kerinci
zaman dahulu.
Kalau
kita simak fonetis yang terdapat dalam naskah Incung umumnya memakai bahasa
Melayu. Sebab bagaimanapun juga bahasa Kerinci Kuno tersebut merupakan bahagian
dari bahasa Melayu zaman lampau yang penyebaran meluas dari Madagaskar sampai
ke lautan Fasifik. Sekalipun ada juga kata-kata Kerinci yang tidak ditemui di
daerah penyebaran bahasa Melayu lainnya, tentu hal tersebut merupakan ‘local
geneus’ yang berkembang sesuai dengan lingkungan alam dan budaya lokal. Dengan
kondisi tersebut aksara Incung pada hakekatnya adalah bahagian dari sastra
Indonesia Lama, karena apa yang ditulis dalam naskah-naskah Incung Kerinci
berbahasa Melayu. Dalam naskah itu, diantaranya banyak terdapat kata-kata dan
ungkapan yang sulit untuk dimengerti bila dihubungkan dengan bahasa Kerinci
yang digunakan oleh masyarakat sekarang, karena bahasa tersebut tidak menurut
dialek desa tempatan yang ada di Kabupaten Kerinci. Namun
walaupun demikian, jika disimak secara seksama isi naskah pada tulisan Incung,
orang masih dapat menangkap maksud dan makna yang terkandung didalamnya.
Adapun sejarah tulisan berbahasa Melayu telah mulai dipergunakan sekitar tahun 680. Dari masa itu ada prasasti berbahasa Melayu yang sampai kepada kita, yakni prasasti Karang Berahi (Bangko), Kedukan Bukit (Palembang), Kota Kapur (Bangka), Talang Tuo (Palembang), dan beberapa prasasti lainnya. Prasasti itu ditulis dengan huruf Pallawa (India Kuno) dalam bahasa Melayu Kuno, oleh sebab itulah bahasa resmi dalam prasasti tadi kita namakan bahasa Melayu Kuno.
Berkaitan
dengan bahasa dan aksara Kerinci, termasuk bahagian yang mempergunakan bahasa
Melayu, sebagaimana yang ditulis dalam naskah-naskah Incung. Dalam naskah
tersebut kita temui kata-kata yang tidak lazim pada dialek penyebaran
orang-orang Melayu yang bermukim di Sumatera dan Semenanjung Malaka.
Perbedaannya berakar dari latar belakang bahwa induk suku Kerinci berasal dari
Proto Melayu, dan dari sisi lain proses perjalanan sejarah orang Kerinci tentu
berbeda dengan daerah Melayu lainnya, karena pemakaian aksara maupun fonetis
bahasanya mendapat pengaruh lingkungan alam dan budaya lokal Kerinci.
Satu
pertanyaan, kapan aksara Incung mulai dipergunakan orang Kerinci?. Untuk
mengungkapnya tentu membutuhkan penelitian yang kongrit. Namun demikian, diduga
orang Kerinci telah menggunakan tulisan Incung sejak zaman sesudah adanya
prasasti Sriwijaya abad ke 7 di Karang Berahi (Kabupaten Merangin) bertulisan
Pallawa. Cukup beralasan karena sebelumnya tidak ditemukan benda bertulisan di
daerah Kerinci umumnya di Sumatera kecuali aksara Pallawa tersebut.
Walaupun
demikian belum tentu orang Kerinci pada zamannya meniru tulisan Pallawa, baik
cara penulisan maupun cara bacaannya. Aksara Incung pada awalnya ditulis dengan
memakai sejenis benda runcing dan guratannya mirip dengan tulisan paku aksara
Babilonia Kuno. Yang jelas aksara Incung sudah dipergunakan oleh orang Kerinci
selama berabad-abad sesudah aksara Pallawa dikenal oleh bangsa Melayu Sumatera.
Inspirasi lahirnya aksara Incung pada orang Kerinci Kuno, didasari atas
pemikiran pentingnya untuk pendokumentasian berbagai peristiwa kehidupan,
kemasyarakatan, sejarah, tulis-menulis dan lain-lain.
Daerah
yang terkait dengan hubungan aksara Incung Kerinci adalah Lampung dan Rejang.
Seperti di Lampung, masyarakat di sana menyebut aksara daerahnya sebagai “Surat
Ulu” atau sebutan lainnya “Palembang Ulu”. Di daerah Sumatera Selatan yang
memakai bahasa Melayu, mengatakan bahasa yang terpakai pada ‘Surat Ulu’ tadi
bukanlah bahasa Melayu, tetapi mereka mengatakan bahasa orang dahulu, bahasa
kuno.
Kata
Surat Ulu, yaitu surat orang zaman dahulu, banyak dibantah oleh pakar filologi.
Menurut mereka yang benar ‘Surat Ulu’, yaitu surat ‘Hulu’ atau surat orang
‘pedalaman’. Karena surat-surat dengan aksara itu hanya terpakai di pedalaman
saja, sedangkan pedalaman yang memiliki peradaban tulis baca pada zamannya
adalah daerah Kerinci. Daerah Kerinci berdasarkan bukti-bukti temuan arkeologi,
dalam sejarah kebudayaan Nusantara merupakan daerah yang sangat tua (di Kerinci
ditemui keramik dari Dinasti Han 300 SM).
Untuk
mengungkap historis pemakaian aksara Incung yang terdapat pada naskah-naskah
kuno Kerinci. Ada petunjuk dari beberapa naskah dengan pendahuluan kata-kata
berbunyi :
Ø Basamilah mujur batuwah jari tangan aku mangarang
surat incung jawa palimbang ... (Bambu dua ruas tulisan Incung pusaka Depati
Satio Mandaro di Desa Dusun Dilir Rawang)
Ø Ah basamilah akung mangarang parapatah surat incung
jawa palimbang ... (Bambu dua ruas tulisan Incung pusaka Rajo Sulah Desa Siulak
Mukai).
Apa
yang ditulis dalam naskah kuno Kerinci dengan sebutan ‘surat incung jawa
palimbang’ maksudnya adalah, penyebaran aksara Incung sebagai tulisan lingua
franca sampai ke daerah Sumatera bahagian Selatan pada zaman tersebut. Daerah
Selatan itu yaitu daerah Lampung dan Rejang, yang mana oleh orang Kerinci zaman
dahulu disebut sebagai ‘jawa palimbang’.
Dimaksud
dengan Jawa bukan Pulau Jawa tetapi daerah Lampung, sesuai dengan keadaan
munculnya kerajaan Sriwijaya. Hal ini dijelaskan oleh prasasti Kota Kapur Bangka
(686 M) yang menyebutkan penghancuran bhumi jawa yang tidak bakti (tunduk)
kepada Sriwijaya, antara lain bunyinya “..ni pahat di welanya yang wala
srivijaya kaliwat manapik yang bhumi jawa tida bhakti ke srivijaya”.
Bhumi
Jawa tersebut adalah sebuah kerajaan di Lampung, yaitu Tulang Bawang yang
memiliki kekuatan menyaingi Sriwijaya. Sedangkan ‘palimbang’ yang dimaksud
dalam tulisan Incung Kerinci, juga bukan berarti kota Palembang, tetapi adalah
komunitas orang dengan kebudayaannya di Sumatera Selatan, karena aksara Incung
tidak terdapat di Palembang.
Jadi
aksara yang terdapat dalam naskah kuno Kerinci, zaman dahulunya pemakaiannya
sampai ke Rejang dan Lampung. Dalam naskah kuno Incung juga disebut nama
kota-kota tua yang ada di daerah Selatan, sekalipun saat sekarang kota atau
tempat tersebut tidak lagi memakai nama seperti dalam naskah Incung.
Kerinci
sebagai daerah hulu yang terletak di dataran tinggi Bukit Barisan, dan orang
Kerinci menyebut Jambi dan Palembang sebagai daerah rantau transit perdagangan
ke selat Malaka. Selama ratusan tahun hubungan orang Kerinci ke Selatan dengan
melewati jalur tradisional Merangin dan Gunung Sumbing, untuk perdagangan
sekaligus kontak budaya dengan masyakarat bahagian Selatan. Dari hubungan
antara segala macam fenomena simbolik dengan realitas kehidupan masyarakat
Kerinci dahulunya dengan orang-orang Melayu Sumatera, dapat diproyeksikan
keberadaan aksara Incung sudah dipergunakan secara luas pada abad ke 14 M.
B.
Perkembangan Aksara Incung
Dalam
perkembangannya, kita akan menemukan karya aksara Incung pengaruh Hindu.
Pengaruh Hindu merupakan pengaruh asing pertama dan lama di Nusantara ini.
Kenyataan terdapatnya kata-kata Hindu dalam naskah kuno Kerinci aksara Incung
seperti kata Batara, Dewa, dan sebagainya.
Dalam
pada itu, setelah agama Islam sampai ke Nusantara ini, beberapa suku bangsa
yang disebut sebagai rumpun Melayu itu kemudian berkembang dengan ciri-ciri
agama, bahasa, dan budayanya masing-masing. Dalam perkembangan yang terjadi
melalui jalan sejarah yang panjang itu kita akhirnya dapat melihat bahwa
orang-orang atau penduduk yang mendiami Sumatera, khususnya wilayah Kerinci
memperlihatkan ciri dengan suatu warna budaya yang amat banyak diwarnai oleh
agama mereka, yaitu Islam. Penduduk daerah ini beragama Islam, berbahasa Melayu
Kerinci, serta mempunyai berbagai kesamaan pula dalam adat dan tradisi dengan
daerah sekitar Kerinci seperti Minangkabau dan Jambi.
Begitupun
dengan aksara daerah yang dimiliki orang Kerinci disebut ‘aksara Incung’,
menghasil karya-karya tulis bermutu tinggi sekalipun mereka telah melupakannya.
Sejak abad ke-19 naskah-naskah aksara Incung telah dijadikan benda keramat oleh
rakyat Kerinci, sedangkan orang-orang yang ahli dan dapat menulis dan membaca
tulisan ini sudah tiada lagi.
C.
Media Penulisan Aksara Incung
Penulisan
aksara Incung oleh orang Kerinci dimuat dalam karya sastra klasik. Pengertian
sastra klasik ialah segala sesuatu yang tertulis, segala rupa tulisan dapat
dipandang sebagai produk sastra, bermacam tulisan dalam berbagai bidang ilmu
dan warna kehidupan dapat menjadi sasaran studi sastra.
Kajian
ini merupakan suatu studi yang memanfaatkan segala dokumen tertulis bagi suatu
pembahasan berbagai cabang ilmu, kebudayaan, dan agama. Pengertian sastra yang
dipasang dalam cabang ini memberi peluang kepada siapapun untuk memakai segala
teks tertulis untuk kepentingan bahan kajian dalam suatu kegiatan ilmu
tertentu.
Hasil
sastra klasik Kerinci secara tertulis mulai pada zaman Islam awal memakai
aksara Incung, dapat kita temukan pada naskah-naskah kuno Kerinci. Naskah kuno
Kerinci yang sampai kepada kita berasal dari abad ke 13 – 19 M berupa benda-benda
pusaka atau ‘pedandan’. Ada semacam kepercayaan dikalangan orang Kerinci, bahwa
penciptaan aksara dan pelahiran kesusastraan bersumber dari suatu latar
belakang perwujudan budaya alam, manusia, dan Ketuhanan sebagai suatu
keseluruhan.
Sehingga
kesusastraan orang Kerinci yang ditulis pada media tanduk kerbau, bambu,
kulit kayu, daun lontar, kain dan kertas merupakan kesusastraan suci
yang dianggap keramat dan sakti. Sampai saat sekarangpun kepercayaan tersebut
sulit hilang dalam kehidupan budaya masyarakat Kerinci


Tanduk Bambu
Kalau
kebudayaan diartikan sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa manusia dalam upaya
memenuhi kebutuhan hidupnya, banyaklah hal yang dapat dibicarakan dalam konteks
tersebut. Bahasa, adat-istiadat, kesenian, dan ilmu pengetahuan adalah
hasil-hasil budaya manusia yang harus dipertahankan hidupnya dan diusahakan
pengembangannya. Salah satu aset kebudayaan Kerinci adalah bahasa Kerinci,
bahasa ini memiliki perbedaan dengan dialek yang diucapkan oleh daerah sekitar
Kerinci seperti Jambi dan Minangkabau.
Kebanyakan
bahasa daerah yang dipakai penduduk Sumatera umumnya adalah bahasa Melayu,
kedalamnya termasuk juga bahasa Kerinci. Bahasa Kerinci dipergunakan khusus
penutur yang ada di kabupaten Kerinci. Sekalipun bahasa Kerinci berbeda dengan
daerah lainnya di Sumatera, namun bahasa daerah ini berpokok kepada bahasa
Melayu. Sejak zaman dahulu menjadi bahasa untuk semua kegiatan bagi orang
Kerinci. Bahasa ini dipergunakan juga oleh orang Kerinci dalam penyebaran
agama, perdagangan, pertanian dan sastra.
Naskah-naskah
kuno Kerinci yang kita sebutkan itu merupakan satu perigi dari perigi khasanah
sastra Melayu Klasik di Indonesia. Masih terbuka lagi kemungkinan menemukan
perigi lain dari peninggalan peradaban Kerinci masa silam. Juga akan menjadi
bahan studi menarik, baik dari segi mutu maupun ketinggian nilai sastranya.
Kita melihat beberapa aspek naskah kuno daerah Kerinci, yang kita pandang
sebagai dokumen tertulis sastra klasik. Hasil sastra klasik itu tidak lain
berupa naskah-naskah, merupakan peninggalan dan hasil karya nenek moyang orang
Kerinci masa silam.
Bahasa
Kerinci adalah bahagian dari bahasa Melayu, sebagai daerah terpencil mempunyai
dialek tersendiri Dialeknya berbeda sekali dengan suku-suku Sumatera lainnya.
Namun orang Kerinci mengerti apabila orang bercakap-cakap dalam bahasa Melayu
atau Indonesia umumnya mereka langsung mengerti pembicaraan tersebut.
Karakteristik bahasa Kerinci terletak pada dialeknya yang banyak, hal seperti
ini tidak ditemui di daerah lainnya Indonesia.
Sehingga
terdapat dialek yang berbeda sebanyak jumlah desa (dusun asli, masyarakat
persekutuan adat) yang ada dalam Kabupaten Kerinci semuanya berjumlah + 177
dialek. Diantara Faktor lain yang sangat mempengaruhi majemuknya dialek
tersebut, dikarenakan kelompok–kelompok yang membentuk dusun (Kerinci: luhah,
nagehi) lebih dominan hubungan genealogis teritorialnya.
Sekalipun
dusun itu bertetangga hanya dibatasi oleh jalan atau seberang sungai saja,
tetapi ketika saling berkomunikasi mereka sama–sama mengerti maksud dari
pembicaraan lawannya. Juga tidak menghambat hubungan silaturahmi diantara
mereka dalam dialek yang berbeda tersebut. Mereka merupakan kesatuan dalam
sebuah lingkungan budaya Alam Kerinci. Jadi bahasa Kerinci ialah bahasa yang
saling dimengerti oleh masyarakat yang menghuni lingkungan Alam Kerinci atau
Kabupaten Kerinci.
Melihat
bentuk grafis aksara Incung Kerinci hampir mirip dengan aksara daerah Sumatera
lainnya seperti Batak, Rejang, dan Lampung. Sekalipun pada bacaan dan
penulisannya banyak juga perbedaan yang mendasar. Kemiripan aksara-aksara
daerah itu disebabkan, mereka berasal dari satu lingkungan budaya Sumatera yang
sama pada masa dahulunya. Kemudian proses tumbuh dan berkembang, aksara
tersebut mengalami corak yang membedakan satu sama lainnya sesuai dengan kondisi
dan letak pusat induk kultur masing-masing etnis Sumatera itu.
Satu
hal, pada naskah-naskah tulisan Incung itu tidak ditemukan penunjuk angka untuk
bilangan. Jadi tulisan Incung hanya mengenal huruf saja dan tidak mempunyai
angka bilangan. Mungkin inilah yang menyebabkan pada setiap naskah tidak
didapati penanggalan maupun tanggal penulisannya.
Agama
Islam berkembang dengan pesat di Nusantara pada puncaknya abad ke – 16, dengan
masuknya pengaruh Islam ke Kerinci penulisan naskah-naskah beralih ke aksara
Arab dengan bahasa Melayu. Hasil-hasil sastra Kerinci pengaruh Islam cukup
banyak, antara lain cerita tentang Nabi Adam, Nabi Muhammad SAW, cerita tentang
ajaran dan kepercayaan Islam, dan cerita mistik dan tasauf.
Penulisan
sastra Incung juga dipengaruhi oleh Islam seperti adanya dalam naskah-naskah
kuno Kerinci aksara Incung, seperti pada kata pengantar : basamilah mujur dan
assalamualikun. Ini menunjuk bahwa orang Kerinci saat peralihan masuknya aksara
Arab atau Islam, tidak menjadikan hilangnya aksara Incung dari kehidupan
mayarakat Kerinci. Tetapi memperkaya karya sastra Incung dengan nuansa Islam,
yang mana mereka menulis naskah-naskah Incung dengan memasukkan unsur-unsur
ajaran Islam.
D.
Contoh Aksara Incung Kerinci







numpang promo ya gan
BalasHapuskami dari agen judi terpercaya, 100% tanpa robot, dengan bonus rollingan 0.3% dan refferal 10% segera di coba keberuntungan agan bersama dengan kami
ditunggu ya di dewapk^^^ ;) ;) :*